rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Pages

saussure

Metode Kritik Sastra
Dalam banyak metode penelitian sastra, berbagai penelitian tersebut masih berbcara tentang definisi sastra, dan sampai sekarang perdebatan tentang definisi apa itu sastra belum terjawab. Oleh karena itu, munculah pembicaraan diberbagai akademisi tentang teori yang bisa merumuskan definisi sastra. Yang pada akhirnya munculah teori Abrams yang didasarkan pada teori komunikasi. Dalam teori Abrams ini di kenal beberapa pendekatan untuk memahami sastra,yaitu:
 Pendekatan mimetic
 Pendekatan ekspresif
 Pendekatan Pragmatic
 Pendekatan objektif

Akan tetapi teori tersebut jika dilihat secara mendalam merupakan sebuah teori yang masih umum, padahal dalam sastra terdapat berbagai permasalhan yang sangat komplek. Sehingga, dibutuhkan sebuah teori atau pendekatan yang benar-benar bisa menjawab semua problematika yang dihadapi oleh sastra. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pendekatan tersebut adalah:
 Mempunyai suatu cara pemahaman dan pengetahuan yang memadai tentang apakah yang disebut semesta dan juga keterhubungannya secara logis dengan sastra.
 Mempunyai pengertian yang jelas mengenai pencipta seni, khususnya pengarang dan kepengarangan, mengenai siapakah pengarang, mengapa seseorang menjadi pengarang, apakah proses mengarang itu, serta bagaimana hubungan pengarang dengan hasil ciptaanya.
 Mempunyai metode dan perangkat konseptual yang mampu mengidentifikasikan efek-efek karya sastra terhadap pembaca.
 Mampu mengidentifikasikan dan memerikan secara jelas pengertian karya sastra sebagai entetitas sendiri.
Berdasarkan syarat-syarat diatas, dapat dikatakan bahwa teori yang ditawarkan oleh Abrams memiliki beberapa kekurangan, yaitu tidak dijelaskannya beberapa factor penting dalam karya sastra. Factor-faktor tersebut antara lain:
 Factor sistembahasa sebagai media karya sastra.
 Factor konvensi sastra
 Factor pembaca sebagai variable social dan historis
 Factor bentuk karya sastra sebagai variable
 Factor criteria penilaian karya sastra.

Linguistic Warisan Sausurre
Dalam lingusti sausurre dikenal adanya istilah langue, parole, significant, signifie, hubungan sigmantik dan paradigmatic. Berdasarkan istilah-istilah tersebut linguistil sausurre dapat dilategorikan kedalam beberapa poin. Yaitu;
 Bahasa adalah fakta social
 Sebagai gejala social, bahasa bersifat laten, ia terutama bukanlah gejala-gejala permukaan, melainkan sabagai kaidah-kaidah yang menentukan gejala permukaan, yang di sebut langue yang manifestasinya di sebut parole.
 Bahasa adalah suatu system atau struktur tanda-tanda
 Unsure-unsur dalam setiap tingkatan tersebut saling berhubungan sehingga menjalin suatu hubungan yang disebut pragmatic dan paradigmatic.
 Relasi atau hubungan itulah yang sebenartnya membangun suatu bahasa, menentukan nilai, makna, pengertian dari settiap unsure dalambangunan bahasa secara keseluruhan.
 Selanjutnya, untuk dapat memperoleh pengetahuan bahasa diperlukan suatu pendekatan yang disebut pendekatan sinkronik.

a. Bahasa sebagai fakta social
Berdasarkan toeri linguistic yang digagas oleh sausurre bahasa merupakan fakta social artinya, bahasa merupakan perwujudan dari berbagai fenomena yang terjadi di masyrakat, yang meliputi adat istiadat, tradisi, aturan masyarakat dan fenomena –fenomena lainnya, yang mana fenomena –fenomena tersebut terjadi akibat dari adanya interaksi individu dengan individu ataupun individu dengan masyarakat. Ringkasnya, dengan bahasa kita dapat mengetahui keadaan masyarakat tertentu dan di zaman tertentu.
b. Bahasa sebagai parole dan langue.
Bahasa sebagai langue berarti bahasa merupakan seperangkat kaidah yang disusun dan oleh masyarakat. Adapun bahasa sebagai parole adalah bahwa bahasa merupakan bentuk interpretsai setiap individu tentang makna suatu tanda.
c. Bahasa sebagai system atau stuktur tanda.
Yang dimaksud bahasa sebagai system tanda adalah bahwa bahasa merupakan kumpulan tanda-tanda yang satu sama lain menjalin kesatuan yang pada akhirnya dari mementuk satu makna.
d. Hubungan sintagmatik dan paradigmatic
Hubungan sintagmatik adalah bahwa suatu tanda, kalimat atau istilah yang digunakan dalam suattu tindakan seolah-olah muncul akibat hubungan konstelasi , yakni sebuah titik atnda yang lain berkonvergensi dan berkoordinasi melalui penalaran tertentu. Adapun hbungan paradigmatic adalah hubungan dari setiap unsur bahasa.
e. Sinkronis dan diakronis.
Sinkronis adalah kajian bahasa yang terbatas dengan waktu dan tempat.adapun dikronis merupakan kajian bahasa yang membandingkan perkembangan bahasa dari zaman satu dengan zaman lainnya.

Strukturalisme dan Sejumlah Kerancuan
Dalam bab ini menjelaskan beberapa kerancuan dalam pemahaman stukturalisme. Pada perdebatan di Prancis menyatakan bahwa strukturalisme berarti penolakan terhadap konsepsi otonomi individual yang dimunculkan oleh para pemikir eksistensialis seperti Marxis-humanis, pemikiran religius dan liberal. Pada beberapa hal banyak yang beranggapan bahwa strukturalisme menyerang fungsionalis, hisorisisme, dan kadang-kadang bahkan segal bentuk gagasan yang mengarah pada kemanusiaan. Disini tidak dimaksudkan untuk membahas lebih jauh strukturalisme sebagai gerakan tetapi tentang implikasai social politiknya.yang mempunyai pengaruh yang luas dan besar sehingga merembes ke tingkat praktis. Kerancuan dalam permasalahan tersebut adalah sebagai berikut: 1. kritik-kritik sstra yang mengklaim sebagai struktural yang lebih banyak menangkap ide-ide yang paling umum kemudian menerapkannya tanpa penalaran yang secara jelas menunjukkan ciri khas pemikiran structural. 2. masalah tidak kejelasan antara kritik-kritik sastra yang mengklaim sebagai kritik struktural dengan prinsip-prinsip Saussure. 3. berkembangnya pemahaman analisis semiotic dalam kritik sastra adalah tahap yang terpisah dan dapat dilakukan setelah analisis struktural sehingga lahir sturktural-semiotik yang mengandaikan secara metodis.4. adanya penyebutan umum yang memusatkan pada unsur-unsur intrinsik karya sastra sebagai kritik struktural.kerancuan dan kekaburan pemahaman teoritik atas strukturalisme dalam kritik sastra mengkibatkan kerancuan dalam hal metodenya.
Gagasan penting dalam strukturalisme Saussurean adalah:
1. Strukturalisme hakikatnya mengasumsikan dunia natural maupun cultural selalu hadir dihadapan manusia sebagai satu bangunan makna-makna.
2. Berbagai aktivitas dalam strukturalisme, missal: upacara, olah seni dll
3. Mengacu konsep lingua dan parole dalam linguistic Saussure dalm bentuk sosial-budaya.
4. Mengikuti saran Saussure tentang pendekatan sinkronis bahasa.
5. Relasi antar unsure yang berada dalam sebuah struktur merupakann penghadir dan penentu makna.

Bagaimana Memulai Kritik Sastra?
Adapun langkah-langkah melakukan kritik sastra structural adalah:
1. Membaca karya dengan cermat
2. Mencatat kesan-kesan dalam pembacaan
3. Menggolongkan kesan-kesan menurut kecenderungan yang sesuai dengan unsur-unsur narasi tertentu.
4. Mencari dan menemukan isyarat-isyarat, tanda-tand tekstual yang relasi perbedaan dalam teks biasa yang disebut dengan pasangan oposisi biner.
5. Mencari kemiripan nalar diantara pasangan oposisi biner.
6. Mencari arah, hierarki, dan pengorganisasian dalam pasangan oposisi biner yang kemudian disarikan dalam pasangan oposisi biner yang secara argumentatife dapat diperlihatkan sebagai rujukan untuk memperoleh nalarnya.
7. Merumuskan oposisi biner
8. Menjelaskan kasus dalam unsure narasi berdasarkan nalar dari oposisi biner rujukan.

Langkah-Langkah Pendahuluan
Langkah-langkahnya adalah:
1. Membaca dengan cermat
Sebagai seorang yang menerapkan teori structural harus peka dan cermatuntuk hal-hal yang bersangkutan dengan asumsi structural dalam karya sastra.
2. Mencatat kesan-kesan
Agar kesan-kesan itu tidak kabur dari pikiran kita, hendaknya kita mencatatnya karena kesan-kesan itu didapatkan seiring dengan intensitas analisis kita.
3. Mengklasifikasikan kesan-kesan pembacaan
Adapun cara mengklasifikasinya: kesan-kesan seputar tokoh, seputar tema, seputar sudut pandang, seputar gaya bercerita, dan seputar setting.

Langkah-langkah Penafsiran
Metode penafsiran struktural bersifat hermeneutis. Dengan kta lain proses penemuan maknanya juga cukup rumit, berlangsung bolak-balik dari satu tahap ketahap berikutnya, dari pengelihatan unsur per unsure kepada penngelihatan yang lebih menyeluruh, dan juga sebaliknya. Proses bolak-balik antara bagian dan keseluruhan ini terjadi secara berulang –ulang dan berharap hingga mencapai keutuhan. Dan perlu dicatat sebelum sampai tahap penemuan makna yang menyeluruh, dalam proses bolak-balik itu, seorang penafsir sering kali harus merivisi dan saling mencocokkan antara pengelihatan persialnya dan pengelihatan secara menyeluruh.
A. Identifikasi pasangan-pasangan oposisi biner dalam narasi
Upaya untuk menemukan makna tidak lain dari upaya mencari relasi-relasi perbedaan ( atau pertentangan) seperti itu dan menginferensikan suatu nalar atau logika yang bekerja di dalam relasi-relasi tersebut. Demikianlah maka, sebagaimana bahasa, narasi sastra pun mengandung makna tertentu karna strukturnya diasumsikan memiliki “aturan-aturan” atau sebuah formasi yg menetapkan berbagai konsituen narasinya (semua tokoh, tindakan, objek tindakan, suasana, setting temapat, waktu, dan lain-lain) dalam relasi-relasi pertentangan atau yang biasa disebut dengan oposisi biner. Dari seluruh pasangan oposisi biner itu kemudian kita dapat mencari homologo-homologinya dan mengabstraksikannya hingga mencapai drajat sebuah pasangan oposisi biner yang mampu merangkum keseluruhan narasi. Dari pasangan oposisi biner yang paling abstrak inilah kita kemudian dapat menginferensikannya makna yang meliputi seluruh narasi. Dan dalam hal ini juga harus memperhatikan dua poros dalm linguistik sausure yaitu poros sintagmatik dan paradigmatik

1. Penelusuran sintagmatik
Mengidentifikasi pasangan-pasangan oposisi biner dengan meniti poros sintagmatig yakni dengan membaca karya sastra secara urut dari awal hingga akhir sambil menginvetarisasi pertentangan-pertentangan gagasan yang dimunculkan oleh teks sastra slama pembacaan. Namun dalam hal ini terdapat masalah tuk membagi sluruh rentangan atau linearitas narasi sastra itu menjadisatuan-satuan analisis?masalah ini timbul karena satuan-satuan narasi tidaklah mempunyai batasan-batasan yang jelas seperti satuan-satuan dalam sebuah kalimat. Bias jadi sebuah atuan narasi itu secara kuantitatif berupa satu kata, satu kalimat, paragraf, hingga satu bab. Tak ada batasan yang jelas untuk menentukan satuan-satuan itu.
Mengambil dari teori hermeneutika (Bdk. Teeuw 1988: 124-125) dan digabungkan dengan prinsip-prinsip structural. Langkah yang pertama kita akan memperlakukan sebuah fragmen narasi sebagai satu unit analisis ketika setidaknya fragmen itu mengandung sebuah pasangan tanda yang berelasi secara oposisional atau yang biasa disebut dengan oposisi biner, yakni pasangan tanda yang mengandung gagasan-gagasan berlawanan dalam fragmen narasi tersebut. Unit analisis ini bersifat sementar. Artinya ketika penelusuran sintagmatik dilanjutkan dan kita menemukan oposisi biner yang lain, maka lingkup unit analisis itu akan bertambah besar dan luas, yakni sampai mencakup oposisi biner yang terakhir ditemukan.
Ketika cakupan itu sudah mencapai fragmen yang cukup besar yang memungkinkan kita melakukan abstraksi yang mampu memperlihatkan kita melakukan abstraksi yang mampu memperlihatkan suatu hubungan-hubuangan bermakna dalam sebuah tahap nalar tertentu, maka fragmen tersebut akan kita perlakukan sebagai unit narasi yang memadai sebagai satu unit analisis. Selanjutnya kita bias melangkah untuk menemukan satuan analisis berikutnya hingga kita akhirnya sampai pada analisis dan penafsiran makna tang mencakup seluruh narasi.
2. Penelusuran paradigmatic
Hubungan paradigmatic tidak dapat dilihat secara jelas, maka hubungan paradigmatic ini bersifat tidak hadir secara fisik dalam narasi. Hubungan ini merupakan serial yang serangkaian, misalnya, seorang tokoh dengan tokoh atau sosok-sosok lain melalui serangkaian kemungkinan asosiasi dalam benak pembaca. Lebih lanjut, berbagai kemungkinan asosiasi tersebut kemunculannya juga sangat ditentukan oleh kompetensi pembaca. Seorang pembaca yang memiliki banyak referensi pengetahuan, wawasan sosio-kultural dan juga wawasan literer, sedah barang tentu memiliki kemungkinan rangkaian asosiasi yang lebih banyak dan bervariasi. Dengan demikian, pemaknaan atas karya sastra yang dibacanyapun relative lebih berperspektif, tajam, kaya, dan meyakinkan.
B. Menemukan pandangan dunia dibalik relasi oposisi biner

Langkah selanjutnya yakni mencari suatu pandangan dunia di balik relasi-relasi oposisi biner tersebut. Konsep yang diambil dari goldman yang mendefinisikannya sebagai suatu “kompleks menyeliruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota-anggota suatu kelompok social tertentu dan yang mempertentangkannya dengan kelompo-kelompok social lain.” (viafaruk, 1994:16).
Untuk menemukan pandangan dunia tersebut, pertama-tama kita harus mencari dan menempatkan bermacam-macam pasangan oposisi biner itu sesuai kesejajaran dan polarisasi yang ada. Tanda-tanda itu kita polarisasikan kedalam kutub tertentu menurut kesesuaian makna-maknanya. Setelah menemukan hegemoni-hegemoni atas semua pasangan oposisi biner itu, maka langkah selanjutnay adalah menemukan berbagai formasi gagasan dalam yang tingkatan yang lebih abstrak. Di sini kita harus mempertanyakan adakah sebuah nalar yang mengatur hubungan gagasan itu? Adakah semacam hierarki yang mengatur kedudukan kutub-kutub itu? Kutub gagasan manakan yang dianggap sebagai lebih tinggi atau superior? Jika informasi-informasi gagasan itu sudah dapat kita temukan dan konstruksinya dengan baik, maka kita kemudian harus menyimpulkan atau menginferensikan nalar atau logika yang mengatur hubungan antar formasi gagasan tersebut. Setelah nalar itu kita temukan, berarti kita telah menafsirkan sesuatu yang menjadi prinsip penyusun dan penggerak narasi.

C. Meninjau keseliruhan unsure-unsur struktur narasi dengan nalar narasi
Langkah selanjutnya melakukan peninjauan dan penafsiran signifikansi unsure-unsur pembangun narasi secara keseluruhan. Terlebih dahulu kita harus menemukan formasi gagasan dan nalar narasi (mengambil dari prinsip-prinsip linguistic structural sausure) sebelum melihat keterkaitan yang signifikan antar berbagai unsure narasi. Dengan nalar narasi ini kita akan mempunyai kerangka bernalar untuk dapat menemukan signifikansi mengapa. Demikian pula dengan menggunakan nalar narasi tersebut kita dapat menganalisis secara bertanggung jawab tentang cara-cara dan sarana yang digunakan untuk membangaun narasi, misalnya masalah-masalah sudut pandang, gaya bahas dan sebagainya. Dengan kata lain, kita dapat melihat hubungan antara struktur makna narasi dengan membangun narasi. Yang perlu ditekankan disini bahwa apapun variasi tinjauan tentang struktur narasi itu seharusnya tetap memperlihatkan cirri dan konsistensi penalaran struktur apabila ia mengklaim sebagai pendekatan structural.
D. Melihat kemungkinan rujukan pada sumber-sumber makna sosio-kultural
Langkah selanjutnya mencari rujukan nalar narasi tersebut melalui semiologis kedalam sistemkemaknaan tertentu yang ada dalam lingkungan sosiokultural tempat karya tersebut hidup. Yang dimaksud dengan argumentasi semiologis di sini adalah cara bernalar yang dapat dipertanggung jawabkan yang melihat kaitan antar nalar narasi itu dengan sumber-sumber makna yang kita anggap sebagai rujukannya. Argumentasi semiologis yang paling kuat tentu saja adalah jika kita dapat menemukan tanda tekstual yang mengacu pada sumber maknanya secara jelas. Atau dengan kata lain kita dapat menemukan tanda itu dalam poros sintagmatik narasi. Akan tetapi jika tanda tekstual itu tidak kita temukan, maka dapat membangun argumentasi secara paradigmatic.

Karya Sastra Sebagai Sistem Tanda Kedua Dan Masalah Penafsir
Pandangan bahwa bahasa (system tanda) sastra adalah bahasa yang bersifat khas sudah cukup banyak disepakati oleh banyak pihak, baik masyarakat sastra maupun umum. Terlebih lagi dalam puisi,orang dengan jelass dapat menemukan penguasaan bahasa yang sangat khas atau istimewa yang hanya dilakukan dalam puisi. Kekhasan bahasa sastra itu muncul dalam gayanya yang tidak lazim, entah itu berlebihan, menyimpang, mempermainkan,ataupun bahkan menentang dan menghancurkan cara berbahasa yang biasa.
Cara berbahasa yang khas sastra itu mengandung tujuan untuk menghasilkan efek-efek makna tertentu yang tidak mungkin dicapai oleh penggunaan bahasa biasa. Dengan kata lain bahasa sastra merupakan suatu exploitasi, rekayasa atas bahasa biasa untuk menghasilkan makna sastranya. Oleh karena itu, bahasa sastra ini sering kali disebut system bahasa tingkat kedua (sekunder) sedangkan bahasa biasa sebagai system tanda pertama (primer) (Teeuw, 1988; 70-72).
Selanjutnya untuk melihat karya sastra sebagai system sekunder, diambil dari pandangan Roland Barthes tentangmitos, dimana juga ia berbicara tentang dua tingkatan system tanda.
A. Bahasa Sastra dalam Teori Mitos Roland Barthes
Dalam teorinya mitologinya Barthes (1983: 114-115) mengemukakan bahwa mitos adalah sebuah bentuk tuturan yang menggunakan system tanda tingkat kedua. Dengan demikian karya sastra pun, dalam pngertian Barthes, termasuk dalam mitos seperti itu.
Mitos, menurut Barthes, ialah membangun maknanya dengan cara mengeksploitasi, merekayasa, dan mempermainkansistem tanda bahasa (system tanda primer). Dengan demikian, mitos tidak lagi sekedar memiliki makna di tingkat primer( makna kebahsaan secara harfiah atau denotative), tetapi menyembunyikan makna lain (makna mitis) atau juga disebut makna kiasannya. Untuk memperjelas pandangan tersebut, Barthes membuat model yang menggambarkan penindasan system tanda mitos pada system tanda bahasa sebagai berikut.

Penanda (bhs) petanda (bhs)

Tanda (bhs)
PENANDA (mitos)
PETANDA (mitos)
TANDA (mitos)

Tampak model tersebutbahwa tanda bahasa (system tanda tingkat pertama) yang berupa kesatuan penanda dan petanda berubah menjadi sekedar PENANDA dalam mitos (system tanda tingkat kedua). Penanda (aspek konseptual dalam tanda bahsa) kini “tidak berlaku” lagi dalam pemaknaan mitos. Dengan cara rekayasa tertentu, mitos kemudian mengisi aspek konseptual yang kosong dalam bahsa itu dengan aspek konseptual PETANDA (mitos).

B. Menafsirkan Mitos
Menafsirkan mitos ialah tidak lain dari upaya untuk menemukan makna yang tersembunyi melalui sebuah analisa terhadap sistem primer (denotatif) yang dipergunakan mitos. Penafsiran mitos berlangsung 3 hal berikut:
- Meninjau paparan sintagmatik mitos dan menemukan prosedur mitos dalam merekayasa sistem tanda primernya (bahasa).
Paparan sintagmatik mitos disini berarti apa dan bagaimana pelbagai hal ditampilkan dalam mitos. Untuk sebuah mitos yang berbentuk narasi, paparan sintagmatik ini menyangkut masalah tentang bagaimana jalan ceritanya, siapa tokoh-tokohnya, dimana settingnya, dan kapan waktu kejadiannya.
Prosedur-prosdur pemitosan sebagai berikut:
a. Penumpang tindihan dalam tanda-tanda dalam sistem tanda primer: prosedur ini biasanya berjalan dengan memanfaatkan pelbagai tanda yang mempunyai homologi-homologi (kemiripan) makna atau bentuk. Dengan saling menumpang tindihkan atau memutar balikkan tanda-tanda itu, mitos akan menghasilkan makna-makna tertentu.
b. Pembelokan dan pembalikan sistem tanda primer: aturan-aturan paparan sintagmatis dan juga makna-makna dalam sistem tanda primer disimpangkan dan dibalikkan.
c. Pengacauan atau “penghancuran” sistem tanda: dalam kasus ini, sebuah mitos memperlakukan sistem tanda primer dengan menjungkirbalikkan, mengacaukan, atau sama sekali dengan tidak mematuhi aturan-aturannya. Atau dengan kata lain, sistem tanda primernya dihancurkan.
- Meninjau pelbagai kemungkinan implikasi dan asosiasi maknawi (semantik) dari rekayasa itu.
Dalam tahap ini terjaadi penjelajahan imajinatif dan logis diatas sangkarut dunia makna yang ditampilkan oleh dunia mitos. Maka dalam hal inilah perbendaharaan pelbagai sistem pengetahuan dan kemaknaan dari seorang penafsir akan sangat berperan. Perbendaharaan itu akan menuntun asosiasi-asosiasi bebasnya dan akhirnya menambatkan pelbagai sangkarut makna tersebut pada suatu struktur pemaknaan.
- Menginferensikan suatu makna lain secara logis dibalik apa secara denotatif dikemukakan mitos.
Langkah ini terkait dengan kemampuan kita untuk menemukan dan menstrukturasikan asosiasi-asosiasi makna. Dengan kata lain, langkah inferensi ini lebih banyak berhubungan dengan struktur paradigmatik karya sastra. Oleh karenanya, kita pun harus lebih banyak memanfaatkan poros paradigmatik untuk membantu menarik inferensi atau menemukan petanda mitos ini.
Don Juan, Don Quixote adalah Aku:
Analisis Struktural Roman Negeri Senja

A. Sinopsis sebagai abtraksi paparan sintagmatis
Selain sebagai ringkasan isi cerita sinopsis juga bisa menjadi abtraksi paparan sintagmatis, maksudnya adalah sinopsis bisa sebagai sarana untuk mempermudah pembaca melakukan perujukan-perujukan pelbagai hal yang secara garis besar hadir dalam struktur sintagmatis roman Negeri Senja.
B. Sinopsis Roman Negeri Senja
Dalam pengembaraannya yang tak pernah henti dan di dorong oleh kehendak untuk meninggalkan kesedihan cintanya, seorang pengembara (aku, penutur cerita ini) sampai di sebuah negeri di mana matahari tak pernah tenggalam. Di sana matahari selalu dalam posisi tersangkut di cakrawala, sehingga negeri itu selalu dalam suasana senja. Pemandangan senja yang abadi di negeri itu sebenarnya merupakan sebuah tempat yang mewujudkan cita-cita keindahan sang Pengembara karena selama ini ia berpendapat bahwa senja adalah pemandangan terindah. Dan karena itu pula, dalam pengembaraannya itu ia juga selalu memburu senja.
Akan tetapi, dalam kenyataannya Negeri Senja tidaklah memmbuatnya bahagia. Disana, di negeri terindah itum, sang Pengembara mendapati kehidupan yang penuh tekanan. Rakyat Negeri Senja hidup dalam kemiskinan dan ketakutan akibat penindasan, teror, dan kekejaman luar biasa yang dilakukan oleh sang penguasa negeri, Puan Tirana yang Buta.
Konon, kekejaman Tirana disebabkan oleh kekecewaan cintanya. Ia dikhianati oleh kekesihnya, yakni seorang leleki yang kini menjadi Guru Besar di Kuil Matahari, sebuah kuil yang sesungguhnya menjadi simbol otoritas keagamaan di Negeri Senja. Ketika remaja, tirana dan pemuda kekesihnya itu sama-sama belajar di Kuil Matahari. Mereka juga kawan seperjuangan dalam gerakan bawah tanah yang bertujuan untuk melawan penindasan penguasa Negeri Senja saat itu. Mereka juga pernah sama-sama di penjara. Namun, ketika tirana telah dibebaskan karena penguasa yang lalim telah berhasil digulingkan, tirana sebagai mendapati kekesihnya telah mengkhianati cintanya. Pemuda itu kini telah berpaling pada perempuan yang berhasil menggulingkan dan merebut tahta Negeri Senja. Dan perempuan penguasa ini kemudian mengangkat kekesih Tirana itu sebagai Guru Besar di Kuil Matahari. Maka sepasang kekasih itu pun berduet menjadi penguasa.
Seperi lazimnya penguasa-penguasa sebelumnya, penguasa baru itu pun kemudian menjadi penindas yang kejam. Sayangnya sang Guru Besar yang biasanya menjadi kekuatan spiritual yang mengontrol penguasa ppolitik itu tidak dapat berbuat apa-apa. Maka atas nama penderitaan dan kekecewaan rakyat, juga kekecewaan cintanya, Tirana merebut kekuasaan dan menjadi penguasa baru.
Dan ketika menjadi penguasa, Tirana pun tak kalah kejamnya. Bahkan karena penderitaan cintanya itu, Tirana dengan kesaktian dan kekuasaannya yang luar biasa berusaha untuk menghapuskan perasaan dan pikiran tentang cinta dari Negeri Senja.
Seperti layaknya negeri yang tertindas, di sana pun timbul perlawanan. Semula perlawanan itu merupakan gerakan tanah, namun lambat laun pecah menjadi perlawanan terang-terangan yang ditandai dengan berdirinya Partai Hitam dan puncaknya menjelma pemberontakan. Akan tetapi, pemberontakan itu gagal. Kekuatan Tirana yang di dukung oleh pengawal-pengawal dan segenap bawahannya benar-benar tidak tertandingi oleh gabungan seluruh kekuatan pemberontak. Seusai pemberontakan yang gagal itum, sang Pengembara meninggalkan Negeri Senja dengan perasaan kehilangan akan sesuatu. Segala pengalaman Sang Pengembara itu ditulis dan dikirimkannya kepada Alina dan Maneka. Dua orang yang selalu dicintainya sekaligus dengan cara yang mustahil.
C. Pandangan Dunia dalam Narasi Negeri Senja
Dari narasi roman Negeri Senja kitab dapat mengidentifikasikan segenap komponen penyusun naratifnya, seperti tokoh-tokoh, tindakan, peristiwa, emosi-emosi.
Ada lima pasangan gagasan oposisional yang merupakan hasil abstraksi dari pelbagai pasangan oposisi biner antartanda yang dapat kita temukan dalam pembacaan Negeri Senja, kelima pasangan itu adalah sebagai berikut :
1. Keburukan dan keindahan.
2. Penderitaan dan kebahagiaan.
3. Kefanaan dan keabadian.
4. Keterikatan dan kebebasan.
5. Keterpecahan (kontradiksi) dan keutuhan.

D. Meninggalkan Kenyataan, Menuju Dunia Sempurna
Kelima pasangan gagasan oposisional diatas dapat kita abstraksikan menjadi satu pasangan gagasan oposisional, yakni ketidaksempurnaan dan kesempurnaan.kutub-kutub gagasan yang meliputi keindahan, keabadian, kebahagiaan, kebebasan dan keutuhan secara bersama-sama dan saling menguatkan dapat kita katakan sebagai varian yang mewujudkan gagasan tentang dunia yang sempurna. Ke arah dunia yang sempurna ini, tokoh-tokoh dalam negeri senja mengarahkan segenap tindakannya.
Selanjutnya, kutub-kutub gagasan yang meliputi kejelekan, kefanaan, penderitaan, kesedihan, keterikatan dan kontradiksi-kontradiksi secara bersama-bersama membentuk kutub gagasan tentang dunia yang tidak sempurna. Di dunia yang tidak sempurna inilah manusia-manusia dalam narasi negeri senja merasakan kenyataan hidup. Oleh karena itu, tokoh-tokoh dalam negeri senja berusaha untuk meninggalkan kenyataan ini dan memburu dunia yang sempurna.

E. Pandangan Dunia dalam Negeri Senja dan romantisisme
Dalam negeri senja yang selalu melihat dunia kenyataan sebagai sesuatu yang tidak sempurna, dan oleh karena mereka ingin meninggalakannya serta meraih dunia yang sempurna, mempunyai persamaan dengan pandangan dunia Romantik.
Menurut Wellek (via faruk, 1995 : 144), Romantisisme bersikeras mengatasi keterpisahan antara subjek dengan objek, diri dengan dunia, kesadaran dengan ketidaksadaran, dengan menggunakan peralatan-peralatan seperti imaji, simbol, dan mite.
Menurut faruk (1995 :144), romantisisme adalah kesatuan dan ketegangan antara dunia ideal yang penuh persatuan, dan selalu menuntut untuk menyatu dengan dunia nyata yang penuh perpisahan, kekacauan dan keanekaragaman unsur-unsurnya.
Secara paradigmatis, dunia di dalam negeri senja menghubungksn kita pada dunia yang terbangun dalam karya-karya romantik. Negeri senja juga memperlihatkan motif-motif Romantik, dengan demikian dapat dikatakan bahwa Negeri Senja merupakan sebuah karya yang masih berada dalam tradisi sastra romantisisme, meskipun karya ini lahir di zaman posmodern.

F. Negeri Senja sebagai Mitos Romantik
Karya sastra merupakan sebuah sistem tanda tingkat kedua, maksudnya ialah bahwa karya sastra membangun maknanya di atas sebuah sistem tanda lain, yakni bahasa. Barthes (1983 : 114-115) menyebut sistem tanda tingkat kedua semacam itu sebagai mitos.
Telah disimpulkan di muka bahwa negeri senja merupakan karya sastra yang masih berada di dalam tradisi sastra romantik. Dengan kata lain, karya ini merupakan sebuah mitos romantik. Namun demikian, kesimpulan itu tidak sepenuhnya benar.
Ada dua masalah penting yang mengemuka ketika negeri senja kita sebut sebagai mitos Romantik, yakni masalah lapisan sistem tandanya yang lebih dari dua tingkatan, dan kasus-kasus anakronisme penanda-penandanya.

G. Tafsir Mitos di Atas Mitos
Memproduksi dan mengintensifkan penampilan penanda-penanda mitos Romantik secara berlebihan akan memunculkan efek kemaknaan yang paradoksal. Pada satu sisi penciptaan penandaan-penandaan Romantik itu memang memperbesar dan mempertajam makna atau serpihan-serpihan pandangan dunia Romantik, namun pada sisi lain muncullah ironi terhadap romantisisme itu sendiri.
Pada satu sisi narasi negeri senja menampilkan betapa susah dan tak akan habis-habisnya keindahan senja itu diceritakan, akan tetapi di sisi lain keindahan senja itu dikemas dalam kotak senja dan diperjualbelikan sebagai komoditi hiburan yang bersifat massal.
Negeri senja, pada satu sisi menegaskan kembali secara kuat dan berlebihan pandangan dunia Romantik, akan tetapi pada sisi lain tendensi yang teramat kuat itru justru menghancurkan dirinya sendiri. Dunia Romantik yang dimitoskannya tampil secara ironis, dan mengandung nuansa olok-olok meskipun sangat tersamar. Negeri Senja telah menampilkan sosok-sosok pengelana dan pemburu cinta, seperti sang Pengembara dan Tirana, yang begitu tandas mereguk passion cinta yang mengingatkan kita pada sosok Romantik ala Don Juan.
Kita juga bisa menemukan sikap romantik terhadap cinta yang ditampilkan secara berlebihan, naif dan tolol meski dengan jejak yang sangat samar dari prototipe tokoh parodis atas ksatria pengembara dalam kisah-kisah romantik, yakni Don Quixote yang menjadi tidak waras setelah membaca terlalu banyak kisah romantik dan roman-roman ksatria Abad Pertengahan.
Akan tetapi, berbeda dari tendensi parodis Don Quixote yang teramat jelas, Negeri Senja rupanya tidaklah berniat membuat suatu parodi. Olok-olok itu muncul dengan sendirinya karena kesadaran Romantiknya yang terlampau kuat dan ingin ditonjolkan. Demi cinta orang bisa menjadi naif, tidak terpelajar, berlarat-larat terus-menerus seperti Sang Pengembara, atau menjadi Tuhan kekejaman seperti Tirana.

0 komentar:

Posting Komentar