rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Pages

KAJIAN SASTRA KAWASAN ARAB MODERN

KAJIAN SASTRA KAWASAN ARAB MODERN

A. Latar Belakang
Seorang penulis menciptakan sebuah karya sastra berlandaskan pada bentuk dan isi yang pada dasarnya mewakili ide dan tanggapannya terhadap kehidupan dan segala makna yang ada di dalamnya (C. Brooks dalam Saman, 2001: 45). Sebelum terwujud dalam sebuah karya sastra, seorang pengarang telah melewati berbagai tahapan yang mungkin tidak diketahui oleh orang yang jauh dari lingkungannya. Ia mungkin telah mengembara, melibatkan diri, membaca, menyelidiki, memilih data, mengasingkan diri, dan lain sebagainya. Karya sastra adalah ungkapan perasaan dan potret realitas sosial. Sebagai lembaga sosial yang menyuarakan pandangan dunia pengarangnya, sastra bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung, tetapi merupakan suatu gagasan, aspirasi, dan perasaan yang dapat mempersatukan kelompok sosial masyarakat. Bahkan, sastra dapat diposisikan sebagai dokumen sosio-budaya. Sedangkan ide atau gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi penciptaan suatu karya sastra, menurut Fananie, disebut dengan tema. Tema dalam sebuah karya sastra menempati posisi yang sangat penting karena tema merupakan ide pusat yang terdapat dalam karya sastra.

Ada banyak tema yang digunakan oleh setiap pengarang dalam mengungkapkan idenya tersebut. Dari sekian banyak tema tersebut, satu di antaranya adalah tema perang. Terciptanya karya sastra bertema perang merupakan ketukan yang terpancar dari hati seorang penulis untuk merekamkan kembali peristiwa-peristiwa yang pernah dialami atau didengarkannya ke dalam bentuk realitas yang dianggapnya sesuai serta memiliki kapabilitas oleh proses penulisannya.
Dalam dunia kesusastraan Arab, tema perang sudah merupakan warisan masa lalunya. Dalam khasanah kesusastraan pra-Islam, al-hamasah merupakan salah satu tema puisi yang cukup banyak ditemukan. Tema puisi ini biasanya membicarakan sifat-sifat yang berkaitan dengan keberanian, kekuatan, dan ketangkasan seseorang di medan perang, mencemooh para penakut, dan sebagainya. Bagi mereka darah yang mengalir demi membela kabilah merupakan sebuah kehormatan.
Dari masa pra-Islam sampai sekarang, Arab merupakan sebuah kawasan "panas" yang selalu rentan terjadi konflik. Ayyâm al-'Arab (Hari-Hari Orang Arab) merupakan rekaman kisah permusuhan antarsuku di Arab yang secara umum muncul akibat persengketaan hewan ternak, padang rumput dan mata air. Di antara perang antarsuku yang pernah terjadi pada masa itu antara lain perang Bu'âts (Aws versus Khazraj), perang Basûs (Bani Bakr versus Bani Taghlib), perang al-Fijâr, perang Dâhis dan al-Ghabra. Penyair pada masa itu memiliki peranan penting sebagai corong pihak yang bersengketa, sehingga lahirlah Muhalhil dan Antarah Ibn Shaddâd.
Ketegangan-ketegangan ini pun tampaknya mengakar sampai saat ini, meskipun dalam konteks dan situasi yang berbeda, baik dalam skala lokal maupun regional. Sehingga tak heran jika tema-tema perang pada kesusastraan Arab kontemporer juga bertebaran di berbagai wilayah dunia Arab.
Dalam tulisan singkat ini akan diambil studi kasus salah satu wilayah Timur Tengah yang sangat rentan dengan konflik, yaitu Irak. Pengambilan sampel sebagai kasus dalam tulisan ini juga dimaksudkan sebagai langkah awal dalam studi sastra kawasan yang selama ini masih dirasa kurang. Adapun batasan waktu yang akan menjadi fokus pembahasan dalam tulisan ini adalah pada fase kontemporer.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Sastra Irak Kontemporer
Sejak pasca Perang Dunia I tidak sedikit para penulis dan sastrawan menggoreskan pena-pena mereka untuk menyuarakan kebebasan dan kemerdekaan. Sehingga muncul para penyair nasionalis seperti Ma'ruf ar-Rusafi, Jamil Sidqi az-Zahawi, Muhammad Mahdi al-Jawahiri, Badr Syâkir as-Sayyâb, dan Abd al-Wahhab al-Bayyâtî. Ar-Rusafi yang banyak menulis puisi tentang penderitaan orang-orang Irak dan perjuangan mereka ke arah kemerdekaan. Jawahiri dalam puisinya juga menyatakan dengan keras sentimen anti-kolonialis.
Pada tahun 1960-an sampai 1970-an, Partai Ba'ats mengembangkan kekuatannya untuk menggiring kehancuran sebuah tradisi budaya yang kaya. Ribuan seniman dan para penulis terpaksa hidup di pengasingan karena jika tidak, mereka pasti akan meringkuk dalam jeruji penjara. Dalam kondisi keamanan dan politik yang kurang menentu pada tahun 1960-an tersebut, di Irak muncul sebuah generasi atau angkatan baru para penyair Irak yang lebih dikenal dengan sebutan Generasi/Angkatan 60-an (Jail al-Sittîniyyât) setelah generasinya as-Sayyâb, al-Bayyâtî, dan kawan-kawannya pudar. (Hamud, tt.). Munculnya generasi tersebut tak lepas dari kondisi udara sastra di Irak yang mungkin lebih sering diwarnai oleh agitasi politik dan ideologi yang mengakibatkan timbulnya pergolakan dan revolusi, sebagaimana yang terjadi pada 1958 dan 1960 sampai pada Revolusi 68 yang disinyalir membawa angin baru pada seni dan budaya dengan diterbitkannya kembali buku-buku sastra.
Pada awal masa tersebut hingga akhir tahun 1960-an kebanyakan dari para penulis kenamaan di Irak cenderung ke arah politik kiri, dan beberapa di antara mereka dekat dengan Partai Komunis, seperti Badr Syâkir as-Sayyâb. Sebagian besar mereka hidup dalam kemiskinan, pengembaraan, pengangguran, dan bahkan hanya tidur-tiduran di kebun, gubuk dengan penuh keterpaksaan tanpa ada sebuah pilihan lain. Tak diragukan lagi bahwa generasi ini memiliki sebuah ciri tersendiri yang boleh dikatakan sampai pada taraf keterputusan dengan generasi modern awal. Angkatan ini terkenal dengan masa-masa kritis dalam himpitan politik yang sangat sulit hingga sampai pada taraf resignasi. Di antara tokoh yang terkenal dalam angkatan ini adalah Fâdhil al-‘Azâwî, Sargon Baulus, Jean Dammo, Abd al-Qâdir al-Janâbî, ‘Abd ar-Rahmân al-Rabî'î, Syarîf al-Rabî'i, dan Shalâh Fâiq (Hamud, tt.).
Sedangkan untuk genre prosa, pada fase ini muncul beberapa nama yang cukup dikenal di tanah airnya, seperti Isma'il Fahd Isma'il, Abdul Malik Nuri, Fu'ad Takerli, dan Syâkir Khusybak (seorang guru besar Universitas Baghdad). Isma'il Fahd Isma'il sebagai seorang novelis, telah turut memberikan sumbangan penanya dalam karya kuartetnya berlatar Irak di tahun 1960-an yang terbit di tahun 1970-an. Karya kwartet tersebut adalah Kânat as-Samâ' Zarqâ' (1970), al-Mustanqa'ât adh-Dhau'iyyah (1971), al-Habl (1972), dan adh-Dhifâf al-Ukhrâ (1973).
Pada 22 September 1980, Saddam menyerbu Iran sehingga meletus perang Irak-Iran. Selama peperangan melawan terhadap Iran ini, secara umum sastra Irak memiliki dua kecenderungan, yakni kecenderungan sastra propaganda yang didukung oleh kebijakan budaya dari penguasa yang hanya berfungsi sebagai propaganda dan mobilisasi; dan kecenderungan sastra perlawanan. Kecenderungan pertama biasanya dimunculkan oleh corong penguasa, sedangkan kecenderungan kedua biasanya dimunculkan oleh kelompok exile (yang hidup di pengasingan). Saddam sebagai corong pemerintahan pada saat itu telah melahirkan sebuah karya sastra berupa novel berjudul Ibta'ada yâ Syayâthîn! (Enyahlah Wahai Setan-Setan) yang berlatar belakang sejarah Irak pada zaman Perjanjian Lama dan dikaitkan dengan perang Irak-Iran. Versi Arab novel ini diterbitkan pada tahun 2001 dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Be Done Demons yang telah dicetak ratusan ribu eksemplar untuk dibagikan secara gratis kepada orang-orang asing di seluruh Irak, beberapa bulan sebelum AS melakukan invasi (Maret 2003). Selain itu juga muncul beberapa nama seperti Alia Shimon Ballas (lahir 1930), Samir Naggash (1938--2004), Salima Salih (lahir 1942), dan Mamduh (lahir 1944). Ada juga penyair yang lebih muda ‘Adnân ash-Sha'ig (1955). Sebagai seorang penyair yang hidup pada masa ini, ia telah turut andil bicara melalui sajak-sajaknya. Penyair kelahiran Kufah 1955 yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti bahasa Swedia, Belanda, Iran, Kurdi, Spanyol, Jerman, Perancis, dan Norwegia ini telah menelurkan karya-karyanya seperti al-‘Ashâfîr la Tuhibb ar-Rashâsh (1986), dan Kharajtu min al-Harb Sahwan (1994) (Atho'illah, 2007: 22).
Pada tahun 1990-an Irak menginvasi Kuwait yang berakibat terjadinya Perang Teluk antara Irak dan pasukan sekutu pimpinan AS. Karya sastra, terutama puisi, pada masa ini didominasi oleh kosakata perang seperti kata al-harb (perang), al-malâji' (kamp pengungsian), al-qitâl (pertempuran), al-khanâdiq (parit), al-banâdiq (peluru), al-aslihah (senjata), dan kata-kata sejenisnya. Peristiwa ini telah mendorong lahirnya sebuah antologi puisi bertajuk Qabl ad-Dukhûl 'Alaikum bi an-Nabâ'. Antologi ini memuat 16 penyair termasuk di antaranya yang terkenal adalah Hasab asy-Syaikh Ja'far, Sami Mahdi, Siham Jabbar, dan Reem Kubba.
Pada masa Perang Teluk ini salah seorang penyair Radhi Ja'far juga ikut angkat bicara menggoreskan sajak-sajak perangnya. Ia telah mengumpulkan karyanya dalam sebuah antologi bertajuk Ahzan Ibnu Zuraiq (Ballada Ibnu Zuraiq) yang telah merekam tragedi kemanusiaan di Irak antara tahun 1991-1997. Sebelum tahun itu, ia jarang menulis puisi-puisi kesedihan kecuali puisi yang digubah saat kematian ibunya berjudul Bukâ' (Tangisan). Pada masa-masa krisis, Ja'far sempat melakukan eksodus ke negeri orang, yaitu Damaskus dan Yordania. Selama pengembaraannya itu, ia sempat menulis belasan sajak. Sajak-sajak itu kemudian dikumpulkan dengan sajak-sajaknya lainnya yang ditulis sehingga menelurkan sebuah antologi berjudul Ahzan Ibnu Zuraiq (Ballada Ibnu Zuraiq). Radhi Ja'far adalah Ibnu Zuraiq[2] di abad ke-21. Ia menjadi seorang musafir yang terlantar di jalan. Kepiluannya seperti kepiluan Ibnu Zuraiq yang meninggal dunia karena kedinginan di pinggir kota Grenada beberapa abad yang lampau. Menurutnya, Ibnu Zuraiq adalah prasasti sejarah atas matinya nurani. Ia adalah korban keangkuhan (Saerozi, 2003).
Selain genre puisi, peristiwa Perang Teluk juga telah mendorong diterbitkannya karya prosa berupa cerpen, yang di antaranya adalah antologi Hîna Yahzan al-Athfal Tatasâqat ath-Thâ'irât. Antologi tersebut memuat sekitar 24 cerpenis. Di antara cerpenis tersebut yang patut untuk disebutkan adalah cerpenis Mohamed Khidayyir yang telah menulis cerpen dengan judul Tahnit. Selain itu ada juga Warid Badr Al-Salim yang menulis sebuah cerpen berjudul Infijar Dam'a yang di dalamnya memuat catatan harian 40 hari selama peristiwa Perang Teluk, 16 Januari -- 28 Februari 1991.
Di bidang drama, pada tahun 1992, melalui pagelaran Festival Drama Arab ke-3 di Baghdad, Ghanim Hamid menggarap pementasan drama berjudul al-Miftah yang skenarionya ditulis oleh Yusuf al-Ani (Yousif, 1997). Drama tersebut sebenarnya sudah ditulisnya sejak lama sekitar tahun 1968, tapi kemudian digarap ulang dengan menyertakan kejadian-kejadian baru sekitar Perang Teluk yang masih hangat.
Irak selama periode 1998-2002 sering terjadi konflik akibat penolakan terhadap resolusi PBB. Pada periode ini telah lahir beberapa karya puisi yang syarat dengan kosakata perang, blokade, embargo, dan sejenisnya. Di antara karya-karya tersebut adalah antologi puisi Dzâlik al-Mathar al-Murr (1998) karya Salâm Daway, Qathan Aswad (1999) karya Muhammad Salman Muhaisan, Daftar al-Mâ' (2000) karya Wadî' Syâmikh, Fî ‘A'âlî al-Kalâm (2000) karya Nashîr asy-Syaikh, al-Barasîm (2001) karya ‘Abd al-Husein Barasîm, Lâ Ahad bi Intidzâri Ahad (1999), Sa‘âdât Sayyi'ah ash-Shait (2001), karya Jamâl Jâsim Amîn, dan Hiyâd al-Marâyâ (2001) karya Muhammad Darwîsy ‘Alî.
Pertumpahan darah di Irak terus berlanjut. Pada tanggal 9 April 2003 Baghdad resmi jatuh ke tangan Amerika. Kondisi politik dan keamanan yang tidak menentu telah mempengaruhi perkembangan sastranya. Pada masa-masa invasi tersebut perkembangan genre puisi bertema perang berkembang lebih cepat, jika dibandingkan dengan drama dan novel. Hal ini disebabkan karena penulisan drama dan novel membutuhkan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan penulisan puisi.
Novelis Irak kontemporer, Syakir al-Anbari, menyatakan bahwa ada sejumlah karya besar di Irak pada masa kontemporer ini, terutama puisi dan novel, yang terbit di sejumlah surat kabar harian. Mereka kebanyakan berkutat dengan tema-tema sekitar penderitaan rakyat Irak, pengungsian, dan kejadian pembunuhan. Namun sayangnya tulisan mereka tidak sampai di sejumlah pembaca Arab. Menurutnya, para penulis Arab secara umum dan penulis Irak pada khususnya telah gagal mengungkap peristiwa-peristiwa di Irak. Mereka kebanyakan tidak memahami sifat dasar kejadian-kejadian yang berlangsung di Irak karena cara berpikir mereka yang dangkal. Para intelektual Arab, khususnya di Irak, mendekati hal ini dengan menggunakan sistem dualisme yang naif dan dihadapkan pada pertimbangan yang hanya berkisar pada "pendudukan dan rakyat". Bagaimanapun, ada banyak benang kusut dan permasalahan historis yang belum terpecahkan dalam masyarakat Irak. Penjajah dengan tanpa hati-hati telah memicu munculnya semua permasalahan yang terpendam.
Dalam genre puisi, pada tahun 2006 telah terbit antologi puisi dalam bahasa Arab dan Jerman bertajuk al-‘Audah min al-Harb: Mukhtârât asy-Syi'r al-‘Irâqî al-Jadîd (Rückkehr aus dem Krieg: Neue Irakische Lyrik). Pokok materi antologi setebal 700 halaman yang terbit di Frankfurt ini merujuk pada semua penyair, seperti: kehancuran, peperangan, hilangnya hak, dan pengusiran. Ini adalah pengalaman-pengalaman yang menggambarkan situasi kehidupan di Irak masa-masa hingga tahun terbit antologi tersebut, meski kebanyakan dari sebagian penyair-penyairnya tidak lagi hidup di Irak. Antologi tersebut memuat lebih dari 40 penyair Irak kelahiran antara tahun 1920-an hingga 1970-an, baik yang berdomisili di Irak maupun di pengasingan seperti di Scandinavia atau Jerman.
Adapun di bidang drama, di antara yang paling terkemuka adalah Hammam Bagdadi yang ditulis oleh Jawad al-Asadi. Sedangkan di bidang novel, sebagaimana diakui oleh Mazlum dan juga al-Anbari, produktivitasnya mengalami perkembangan yang agak lamban karena untuk menciptakan novel-novel dengan mengangkat tema-tema peperangan secara serius dan efektif membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
B. Sastra Mesir Kontemporer
Dalam sastra Arab modern, Mesir dapat dikatakan merupakan pembuka jalan meskipun dari para sastrawan itu banyak yang berasal dari Libanon dan Suriah. Mereka pindah ke Mesir untuk menyalurkan bakatnya di negeri ini.
Sastrawan dan pemikir besar menjelang pertengahan abad ke-20 adalah MUHAMMAD IQBAL (1877-1938) yang lahir di Sialkot dan wafat di Lahore, Pakistan. Ia mengungkapkan filsafatnya dengan puisi dalam bahasa Urdu dan Persia. Beberapa prosanya ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab. Dari kumpulan puisinya, yang terkenal adalah Asrari Khudi di samping karya filsafatnya, The Reconstruction of Religious Thought in Islam.
Dalam abad ke-19 kegiatan penerjemahan buku-buku ke dalam bahasa Arab sudah mulai dirintis secara besar-besaran, yang sudah tentu sebagian besar berupa karya-karya sastra Barat. Nama-nama mulai dari Villon sampai pada angkatan Sartre dalam sastra Perancis, atau Marlowe sampai angkatan Auden dalam sastra Inggris, sudah tidak asing lagi, di samping dari Eropa lainnya. Yang menjadi pelopor dalam hal ini tentu mereka yang telah mendapatkan pendidikan Barat sebagai akibat pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammad Ali (1769-1849) dan sampai puncaknya sebagai gelombang kedua pada masa Khediwi (Khedive) Ismail (1830-1895). Pada waktu itulah banyak karya sastra Barat, terutama karya sastra Perancis, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, seperti Paul et Virginie, dongeng-dongeng La Fontain dan Victor Hugo. Sungguhpun begitu, sastra Arab baru ini masih tetap dapat bertahan pada tradisinya sendiri.
MUSTAFA LUTFI AL-MANFALUTI (1876-1924), sastrawan dan ulama dari al-Azhar yang sudah amat dikenal di Indonesia, dapat digolongkan sebagai pengarang cerita-cerita pendek bergaya semi-klasik semi-modern. Ia, yang juga banyak menerjemahkan, sedikit banyak terpengaruh karya-karya pengarang Perancis abad yang lalu. Dalam perkembangan selanjutnya penerjemahan tidak hanya terbatas pada karya sastra Perancis, tetapi sudah meluas ke kawasan Eropa lainnya, terutama Inggris, Rusia, dan Jerman dengan prinsip mengutamakan terjemahan langsung dari bahasa asal.
Sesudah Perang Dunia I pemikiran-pemikiran intelektual di Mesir, Suriah, dan Irak semakin terasa. Dalam kesusastraan mereka terbagi ke dalam dua kelompok besar. Pada satu pihak pengarang-pengarang yang mempunyai latar belakang pendidikan Barat cenderung pada sastra Perancis dan pada pihak lain lebih cenderung pada sastra Inggris. Yang pertama diwakili oleh Muhammad Husein Haekal (1888-1956) selain sebagai seorang sastrawan, ia juga dikenal sebagai wartawan terkemuka dan pemikir, sedangkan yang kemudian dapat dikatakan diwakili oleh Abbas Mahmud Al-Aqqad (1889-1973) dan Ibrahim al-Mazini (1890-1949).
MUHAMMAD HUSEIN HAEKAL selain besar pengaruhnya dalam sastra Arab mutakhir, juga mempunyai tempat yang penting dalam literatur Islam setelah serangkaian bukunya tentang studi-studi Islam terbit, terutama sekali bukunya yang berjudul Hayāh Muhammad (1936). Haekal dianggap perintis karya sastra modern setelah novelnya. Zainab, terbit (1914). Ia juga banyak menulis kritik sastra dan cerita pendek.
Pengarang-pengarang cerita pendek yang penting dicatat adalah MAHMUD TAIMUR (1894-1973), pengarang dan seniman yang menjadi kebanggan Mesir. Kritik-kritiknya sangat diperhatikan para ahli. Karya-karya Mahmud Taimur sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Ada beberapa pengarang kontemporer yang memiliki kecenderungan mengelolah cerita lama sebagai bingkai dengan pakaian baru untuk memperbincangkan masalah baru. Buku-buku seperti Seribu Satu Malam dan Kalīlah wa Dimnah oleh pengarang-pengarang itu diolah kembali menjadi karya baru untuk kemudian diisi dengan pikiran-pikiran mereka, seperti yang dilakukan oleh TAHA HUSEIN, TAUFIK AL-HAKIM, YAHYA HAQQI, dan NAGUIB MAHFUDZ.
Selain itu di Suriah, ABDUS SALAM AL-UJAILI (lahir. 1918), yang juga seorang dokter medis, aktif dalam penulisan novel dan cerita pendek. Beberapa cerpennya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Demikian juga WALID IKHLASI (lahir. 1935), seorang dosen ekonomi pertanian.
Dari Sudan, yang agak menonjol dapat disebut nama penyair dan penulis cerita pendek, TAYYIB SALEH. Demikian juga di Maroko, tak banyak yang dapat dikenal. ABDUL QADIR AS-SAMIHI termasuk pengarang Maroko yang cerpen-cerpennya sering muncul dalam majalah sastra terkemuka, seperti al-Adab atau al-Majallah. TAHAR BEN JALOUN lebih dikenal sebagai pengarang yang menulis ke dalam bahasa Perancis.
Karya-karya sastra Aljazair modern banyak yang dipengaruhi oleh iklim perang kemerdekaan melawan Perancis. Namun sekaligus timbul paradoks, yakni banyak sastrawan negera di Afrika Utara ini yang menulis karya-karya sastranya dalam bahasa Perancis dan gaya penulisannya pun tidak jauh berbeda dengan gaya pengarang Perancis. Bahkan pemikir dan ulama Aljazair terkemuka, MALIK BIN NABI, menulis pikiran keagamaannya dalam bahasa Perancis. Beberapa karya sastra Aljazair ada yang sudah diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia.
Dari kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi, belum banyak yang dapat disebutkan. Yang dikenal dengan sebutan as-Sā'ir al-Mahjar atau The Emigran Poet ialah penyair-penyair yang berimigrasi umumnya ke Amerika Selatan.
Perkembangan bahasa pun mengalami perubahan dari gaya tradisional, kalimat yang panjang-panjang, dan berbunga-bunga akibat pengaruh pleonasme dan penggunaan kosakata klasik berganti dengan gaya yang sejalan dengan zaman, serba singkat, dan serba cepat. Ciri khas perkembangan bahasa dalam sastra Arab Modern ialah digunakannya bahasa percakapan (vernacularism) dalam dialog, sekalipun dalam pemerian tetap dengan bahasa baku. Kecenderungan seperti ini ada pembelanya, tetapi juga banyak penentangnya. Bahkan pernah ada kecenderungan sebagian kalangan yang ingin mengubah huruf Arab sedemikian rupa supaya dapat juga dibaca dalam huruf Latin. Di Libanon malah ada sekelompok sastrawan yang mencoba menggantikan huruf Arab dengan huruf Latin. Bahkan sudah ada novel yang terbit dalam bahasa Arab dengan menggunakan huruf Latin.


0 komentar:

Posting Komentar